Alaku
Alaku

Setia di Jalur Budaya Asli, Sanggar Benuang Sakti Menanti Keberpihakan Pemerintah

Rejang Lebong, Pena-serawai.com – Di tengah maraknya kegiatan budaya yang kerap berhenti pada tataran seremonial, Sanggar Seni Benuang Sakti justru tampil konsisten sebagai penjaga budaya asli Suku Rejang yang hidup, tumbuh, dan diwariskan secara nyata lintas generasi. Sanggar ini tetap bertahan meski minim dukungan dan perhatian, khususnya dari pemerintah daerah.

Sanggar Benuang Sakti fokus melestarikan seni dan budaya asli Suku Rejang melalui pendidikan tari adat yang sarat nilai sejarah, adat istiadat, dan filosofi leluhur.

Sanggar Seni Benuang Sakti di bawah kepemimpinan Andreas Derangga Saputra, bersama ratusan anak-anak binaan sebagai generasi penerus budaya Rejang.

Aktivitas pelestarian budaya ini berlangsung di Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu. secara berkelanjutan hingga 25 Januari 2026, Pelestarian budaya dilakukan sebagai upaya menjaga jati diri masyarakat Rejang agar tidak tergerus zaman dan tidak terputus dari akar budaya aslinya.

Melalui latihan rutin seni tari adat Rejang yang diberikan secara gratis, meski dilakukan dengan keterbatasan fasilitas dan sarana pendukung.

Ketua Sanggar Benuang Sakti, Andreas Derangga Saputra, menegaskan bahwa budaya yang diajarkan di sanggar bukan sekadar pelengkap acara atau hiburan panggung.

“Budaya ini bukan budaya seremonial belaka dan bukan sekadar pelengkap acara. Ini adalah budaya asli Suku Rejang. Kami mengajarkannya kepada anak-anak agar tidak terputus oleh zaman,” tegas Andreas.

Ia mengungkapkan, hingga kini Sanggar Benuang Sakti telah membina ratusan anak sebagai penari seni budaya Rejang tanpa memungut biaya apa pun. Seluruh proses latihan dilakukan dengan penuh keterbatasan, namun tidak menyurutkan semangat para pelatih dan peserta didik.

Meski konsisten melestarikan budaya daerah, Andreas mengaku perhatian pemerintah daerah masih sangat minim. Kebutuhan mendasar seperti pakaian seragam tari adat Rejang hingga kini belum sepenuhnya terpenuhi.

“Kami tidak menuntut banyak. Kami hanya berharap adanya keberpihakan, berupa bantuan pakaian seragam tari adat. Anak-anak ini membawa nama budaya Rejang, seharusnya mereka tampil dengan identitas yang layak,” ujarnya.

Sebagai salah satu sanggar seni tertua di Tanah Rejang Lebong, Andreas berharap tidak ada perlakuan yang membedakan antara satu sanggar dengan sanggar lainnya.

“Jangan sampai kami berprasangka seolah-olah Sanggar Benuang Sakti dianaktirikan. Kami tetap setia menjaga budaya, meski sering luput dari perhatian,” tambahnya.

Keberadaan Sanggar Benuang Sakti menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui seremoni dan kegiatan simbolik. Budaya asli Suku Rejang hidup melalui ruang-ruang latihan, keringat para pelatih, serta semangat anak-anak yang belajar tanpa pamrih—menanti kehadiran pemerintah untuk berjalan seiring, bukan sekadar hadir di panggung acara. (Salman )

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *