Alaku
Alaku

GEBYAR SEMARAK MERAH PUTIH JADI PANGGUNG PERSATUAN BUDAYA, DIKBUD REJANG LEBONG GAUNGKAN PESAN: JANGAN LUPAKAN WARISAN LELUHUR

REJANG LEBONG, PENA-SERAWAI.COM – Gebyar Semarak Merah Putih di Kabupaten Rejang Lebong bukan sekadar menghadirkan kemeriahan panggung hiburan. Lebih dari itu, pergelaran kebudayaan tersebut menjadi panggung persaudaraan, ruang pertemuan lintas budaya, sekaligus momentum penting untuk membangkitkan kesadaran masyarakat agar tidak melupakan identitas dan warisan leluhur.

Melalui kegiatan yang digelar pada malam hari tersebut, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Kabupaten Rejang Lebong menunjukkan komitmennya dalam melestarikan kebudayaan daerah, sekaligus membuka ruang apresiasi bagi keberagaman seni dan tradisi Nusantara.

Berbagai pertunjukan seni budaya dari sejumlah daerah turut memeriahkan acara. Mulai dari Kabupaten Rejang Lebong, Lebong, Kepahiang, Kota Bengkulu, Musi Rawas, hingga kebudayaan tradisional Sunda. Seluruhnya tampil dalam satu panggung yang menyatukan perbedaan melalui bahasa seni dan kebudayaan.

Salah satu penampilan yang menjadi perhatian adalah Tari Kejei yang dipersembahkan Sanggar Bumei Pat Petulai. Tarian tradisional masyarakat Rejang tersebut bukan hanya menyuguhkan keindahan gerak dan irama, tetapi juga membawa nilai adat, kehormatan, serta identitas budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Selain itu, Pencak Silat Tradisional Rejang Pat Petulai turut memperkenalkan kekayaan seni bela diri tradisional masyarakat Rejang. Penampilan ini menjadi bukti bahwa warisan budaya tidak hanya hidup melalui tarian dan musik, tetapi juga melalui gerakan, filosofi, nilai kehidupan, serta ajaran para leluhur.

DIKBUD REJANG LEBONG PERKUAT KOMITMEN PELESTARIAN BUDAYA

Di balik terselenggaranya pergelaran tersebut, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Rejang Lebong, Zakaria Efendi, M.Pd.,bersama jajaran dan unsur bidang kebudayaan terus mendorong pelestarian serta pengembangan kebudayaan daerah.

Komitmen tersebut didukung oleh jajaran Dikbud Rejang Lebong, yakni Evlin Yulia Sari, S.Si., Sri Wahyuni, S.M., Rizal Fahlevi, S.Sos., Yasmi Sona, S.Pd., Lukman Supardi, M.Pd., Apriyanto, serta Yayan Musthofa, S.E.

Upaya ini menjadi bagian dari tanggung jawab bersama agar seni, adat istiadat, dan tradisi daerah tidak sekadar menjadi catatan sejarah, melainkan tetap hidup, berkembang, dan dikenal oleh generasi muda.

Ada satu prinsip penting yang patut menjadi perhatian dalam setiap penyelenggaraan kegiatan kebudayaan: ketika menjadi tuan rumah, sudah semestinya kita terlebih dahulu menghormati, mengangkat, dan memperkenalkan kebudayaan daerah sendiri.

Rejang Lebong memiliki kekayaan adat, tradisi, dan kesenian warisan leluhur yang harus mendapatkan tempat terhormat. Budaya Rejang merupakan identitas daerah yang tidak boleh tersisih ataupun terlupakan.

Namun, menghormati budaya sendiri bukan berarti menutup ruang bagi kebudayaan lain. Justru, kebudayaan dari daerah tetangga maupun berbagai etnis Nusantara harus tetap diberikan kesempatan untuk tampil dan saling memperkaya.

Inilah makna sesungguhnya dari keberagaman: mengenali jati diri sendiri, menghormati identitas orang lain, serta membangun kebersamaan tanpa harus saling mengungguli.

BERBEDA SUKU, RAS, DAN AGAMA, TETAP SATU DALAM PERSAUDARAAN

Panggung kebudayaan juga harus menjadi ruang yang menyatukan, bukan tempat untuk mempertajam perbedaan.

Para pelaku seni, pemerhati adat, penggerak budaya, dan seluruh elemen masyarakat diharapkan tidak memandang seseorang berdasarkan suku, ras, maupun agama. Setiap kelompok masyarakat memiliki tradisi, adat istiadat, dan keyakinan yang patut dihormati.

Jangan sampai kegiatan yang seharusnya mempererat persaudaraan justru berubah menjadi ruang saling merendahkan, mencela, atau menjelek-jelekkan kebudayaan orang lain.

Nilai-nilai agama mengajarkan pentingnya menjaga perkataan, menghormati sesama, dan hidup berdampingan dalam kedamaian.

Karena itu, seluruh penggerak kebudayaan hendaknya menjadi jembatan persatuan. Tidak perlu saling menjatuhkan hanya karena berbeda tradisi. Setiap kebudayaan memiliki sejarah, filosofi, dan nilai tersendiri bagi masyarakat yang menjaganya.

JANGAN SAMPAI BUDAYA ORANG LAIN DIKENAL, BUDAYA LELUHUR SENDIRI JUSTru DILUPAKAN!

Pesan paling mendasar dari pergelaran Gebyar Semarak Merah Putih adalah pentingnya menjaga kesinambungan warisan budaya kepada generasi penerus.

Tari Kejei, Pencak Silat Tradisional Rejang Pat Petulai, serta berbagai kesenian dari daerah lain menjadi gambaran bahwa keberagaman dapat berdiri berdampingan dalam suasana harmonis.

Generasi muda harus diperkenalkan kepada akar budaya daerahnya sendiri. Jangan sampai lebih mengenal kesenian dari luar, tetapi justru asing terhadap adat, tradisi, dan sejarah leluhurnya.

Kita boleh membuka pintu selebar-lebarnya untuk mengenal budaya dari berbagai daerah, tetapi jangan pernah menutup mata terhadap warisan leluhur sendiri.

Sebab, daerah yang besar bukan hanya daerah yang mampu menampilkan beragam kebudayaan, melainkan daerah yang mampu mengenali, menghargai, menjaga, dan mewariskan identitas budayanya kepada generasi berikutnya.

Melalui Gebyar Semarak Merah Putih, Dikbud Kabupaten Rejang Lebong diharapkan terus konsisten menjadi garda penggerak pelestarian budaya lokal sekaligus memperkuat persaudaraan melalui keberagaman budaya Nusantara.

Berbeda suku bukan alasan untuk bermusuhan. Berbeda tradisi bukan alasan untuk saling membenci. Berbeda keyakinan bukan alasan untuk saling merendahkan.

Budaya Rejang adalah identitas yang wajib dijaga. Budaya Nusantara adalah kekayaan yang harus dihormati. Dari Rejang Lebong untuk Indonesia, mari rawat warisan leluhur, perkuat persaudaraan, dan lestarikan kebudayaan sepanjang zaman. (Salman)

Redaksi : Pena-serawai.com – Lebih Dekat Dengan Masyarakat.

✅ Ikuti Facebook kami:📲 Sahabat MEDIA PENA Serawai

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page