Rejang Lebong – Pena-Serawai.com
Proyek peningkatan jalan lingkungan (bahu jalan) di kawasan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Curup yang bersumber dari dana Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) Pusat Tahun Anggaran 2025 kini menjadi perhatian publik. Pasalnya, pekerjaan yang belum lama selesai tersebut terpantau mengalami kerusakan berupa retakan di sejumlah titik.

Berdasarkan hasil pantauan Pena-Serawai.com di lokasi pada Selasa (6/1/2026), terlihat retakan memanjang dan melintang pada permukaan beton. Bahkan, pada beberapa bagian, retakan tampak cukup jelas hingga ke sisi bawah struktur beton. Kondisi ini memunculkan pertanyaan publik, mengingat proyek tersebut belum lama diserahterimakan (Baru Seumur Jagung).

Mengacu pada papan informasi proyek, pekerjaan peningkatan jalan lingkungan tersebut memiliki nilai kontrak sebesar Rp1.481.456.000, dengan masa pelaksanaan 45 hari kalender, dan dibiayai melalui dana SBSN Tahun 2025. Proyek ini dilaksanakan oleh CV. Manggala Utama dengan pengawasan dari CV. Arch Studio.
Munculnya retakan dalam waktu relatif singkat pascapelaksanaan menimbulkan dugaan adanya persoalan teknis dalam proses pekerjaan. Sejumlah pengamat konstruksi menyebutkan bahwa secara umum, kerusakan dini pada beton dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya mutu beton yang tidak sesuai spesifikasi, proses perawatan beton (curing) yang tidak optimal, ketebalan dan struktur dasar yang kurang memadai, perencanaan drainase yang tidak tepat, hingga pekerjaan yang dilakukan secara terburu-buru tanpa memperhatikan standar teknis.

Namun demikian, dugaan tersebut masih memerlukan penjelasan teknis resmi dari pihak terkait. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak pelaksana maupun konsultan pengawas mengenai penyebab munculnya retakan pada proyek tersebut.

Padahal, dana SBSN merupakan instrumen pembiayaan negara yang penggunaannya dituntut memenuhi prinsip kehati-hatian, kualitas, serta akuntabilitas. Oleh karena itu, publik menilai pengawasan teknis seharusnya berfungsi maksimal sejak awal pelaksanaan pekerjaan.

“Kalau baru selesai sudah terlihat retak, wajar jika masyarakat mempertanyakan apakah pekerjaan ini sudah sesuai dengan spesifikasi teknis yang ditetapkan,” ujar salah seorang warga yang melintas di lokasi proyek.
Kondisi tersebut mendorong harapan agar pihak-pihak terkait, mulai dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), konsultan pengawas, hingga pelaksana proyek, segera memberikan klarifikasi terbuka kepada publik. Evaluasi teknis secara menyeluruh dinilai penting guna memastikan apakah kerusakan tersebut masih dalam kategori wajar atau justru berpotensi menimbulkan masalah struktural di kemudian hari.

Upaya konfirmasi telah dilakukan redaksi Pena-Serawai.com kepada pihak pelaksana proyek, CV. Manggala Utama, melalui pesan WhatsApp. Namun hingga saat ini belum diperoleh tanggapan. Awak media juga mendatangi kediaman pihak pelaksana, namun hanya bertemu dengan istri yang bersangkutan, yang menyampaikan bahwa suaminya sedang dalam kondisi sakit.
Hingga berita ini diterbitkan, redaksi masih terus berupaya meminta klarifikasi dari pihak pelaksana, konsultan pengawas, serta instansi terkait guna memperoleh penjelasan resmi dan berimbang, sebagai bagian dari komitmen media dalam menjaga transparansi dan akuntabilitas pengelolaan dana negara. (Salman)
Redaksi : Pena-serawai.com – Lebih Dekat Dengan Masyarakat.














