Alaku
Alaku

Papan Anggaran Tak Terlihat, Pembibitan 300 Ribu Kopi Robusta Program Kementan di Rejang Lebong Diduga Minim Transparansi

REJANG LEBONG, Pena-serawai.com — Pelaksanaan kegiatan Pembibitan Kopi Robusta Vegetatif Program Hilirisasi Kementerian Pertanian Republik Indonesia melalui Direktorat Perkebunan yang berlokasi di Desa Pal VIII, Kecamatan Bermani Ulu, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu, diduga kurang transparan.

Kegiatan pembibitan tersebut disebut dilaksanakan oleh CV Alam Hijau Lestari, dengan jumlah bibit mencapai 300.000 batang. Adapun klon kopi yang dibibitkan meliputi Sintaro 1, Sintaro 2, Sintaro 3, Sihansence, dan BP.

Dugaan kurang transparan tersebut mencuat setelah awak media Pena-serawai.com melakukan peninjauan langsung ke lokasi pada Selasa, 11 Agustus 2026. Saat berada di lokasi, awak media tidak menemukan papan informasi kegiatan yang memuat keterangan pekerjaan maupun nilai pagu anggaran. Yang terlihat hanya sebuah baleho kegiatan, tanpa mencantumkan informasi mengenai besaran anggaran.

Sejumlah pekerja yang ditemui di lokasi mengaku tidak mengetahui keberadaan papan informasi pekerjaan. Mereka menyarankan awak media menanyakan hal tersebut kepada mandor berinisial AS yang disebut tinggal tidak jauh dari lokasi kegiatan.

Salah seorang pekerja berinisial Su mengatakan dirinya telah bekerja lebih dari satu minggu. Ia mengaku bekerja secara borongan dengan upah sekitar Rp125 per polibeg dan dalam sehari mampu mengisi sekitar 1.000 polibeg.

Menurut Su, pekerjaan pengisian polibeg dilakukan setelah tanah dicangkul oleh pekerja lain. Ia juga menyebut tanah tersebut langsung dimasukkan ke dalam polibeg dan, berdasarkan yang dilihatnya, tidak terdapat campuran bahan lain.

Keterangan serupa disampaikan dua pekerja lainnya berinisial Ni dan Yu. Keduanya mengaku mendapatkan upah sekitar Rp100 per polibeg dan rata-rata mampu mengisi 600 hingga 700 polibeg per hari.

“Tanahnya sudah dicangkul, kami tinggal memasukkan ke polibeg,” ujar mereka saat ditemui di lokasi.

Menurut C dan P kami disini kerja harian, kadang nyangkul tanah untuk di isi ke polibek, kadang masang atap ini, dan kami mendapat upah perhari Rp. 100.000,- Nasi dan tokok kami bawa sendiri, ujarnya.

Sementara itu, AS, yang ditemui awak media, mengaku hanya bertugas sebagai pengawas pekerja di lokasi tersebut. Ketika ditanyakan mengenai papan informasi kegiatan, AS mengatakan papan kegiatan memang ada, namun dipasang di lokasi lain, yakni Tran 25 Jambu Keling, karena kegiatan pembibitan disebut berada di beberapa titik.

“Papan ada, dipasang di Tran 25 Jambu Keling karena kegiatan ini ada beberapa titik,” jelas AS.

Untuk memperoleh informasi yang lebih lengkap, terutama terkait pagu anggaran, volume pekerjaan, spesifikasi pembibitan, serta dasar pelaksanaan kegiatan, awak media kemudian menghubungi Manajer Lapangan, Hasan, melalui WhatsApp pada Selasa, 11 Agustus 2026 sekitar pukul 14.46 WIB.

Namun hingga berita ini diterbitkan, belum ada tanggapan maupun klarifikasi dari pihak manajemen lapangan.

Pena-serawai.com menegaskan bahwa informasi mengenai dugaan kurang transparannya kegiatan tersebut masih bersifat dugaan dan berdasarkan hasil peninjauan serta keterangan sejumlah pekerja di lapangan. Untuk itu, diperlukan klarifikasi dari pihak CV Alam Hijau Lestari, pihak pelaksana program, serta instansi terkait agar publik memperoleh informasi yang utuh dan berimbang mengenai pelaksanaan program pembibitan kopi tersebut.

Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak-pihak terkait sesuai prinsip pemberitaan yang berimbang dan profesional.

Redaksi : Pena-serawai.com – Lebih Dekat Dengan Masyarakat

JILID : I

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page