Rejang Lebong, Pena-serawai.com – Jagat media sosial di Kabupaten Rejang Lebong mendadak dihebohkan dengan viralnya unggahan akun Facebook bernama Kartini Rinut. Dalam tulisannya yang penuh emosi dan keprihatinan, ia secara terbuka meminta perhatian serius dari Gubernur Bengkulu, Kapolda Bengkulu, Bupati Rejang Lebong, hingga aparat kepolisian setempat untuk mengusut tuntas peredaran narkoba di wilayah Binduriang.
Unggahan tersebut bukan sekadar keluhan biasa. Kartini Rinut mengungkap fakta pahit bahwa anaknya sendiri diduga terlibat dalam aksi pembegalan yang terjadi di wilayah Lembak. Namun, ia menegaskan bahwa tindakan kriminal itu bukan semata karena faktor ekonomi, melainkan akibat kuatnya pengaruh narkoba yang marak beredar di Binduriang.

Dalam beberapa postingannya, Kartini mencurahkan kesedihan mendalam. Ia menyebut, anaknya yang kini harus berhadapan dengan hukum, sebelumnya telah kecanduan narkoba jenis sabu dan ekstasi (inek). Bahkan, berbagai harta miliknya disebut telah dijual murah oleh sang anak demi memenuhi kebutuhan membeli barang haram tersebut.
Bahasa yang digunakan dalam unggahan itu pun bercampur antara Bahasa Indonesia dan bahasa daerah, menggambarkan luapan emosi seorang ibu yang terpukul. Ia mengaku tidak pernah mengajarkan anaknya untuk melakukan kejahatan, namun kondisi lingkungan yang dipenuhi peredaran narkoba diduga kuat menjadi pemicu utama.
Lebih jauh, Kartini menyoroti bahwa maraknya kasus begal di wilayah tersebut tidak bisa dilepaskan dari peredaran narkoba yang seolah dibiarkan tumbuh subur. Ia mempertanyakan keseriusan aparat penegak hukum dalam memberantas akar persoalan, bukan hanya menindak pelaku di hilir.

“Jangan hanya tangkap pelaku begal, tapi cari tahu kenapa begal itu terjadi,” kira-kira menjadi pesan kuat yang tersirat dalam curahan hatinya.
Diketahui, setelah ditelusuri, akun Facebook tersebut memang milik orang tua dari salah satu pelaku begal yang baru-baru ini diamankan di Bengkulu. Sang anak disebut merupakan seorang mahasiswa di salah satu perguruan tinggi, yang kemudian terjerumus dalam lingkaran narkoba hingga nekat melakukan aksi kriminal demi mendapatkan uang.
Seorang tokoh muda Binduriang yang dikenal sebagai ustaz, Soni, juga membenarkan bahwa akun tersebut merupakan milik orang tua pelaku. Hal ini semakin memperkuat bahwa unggahan tersebut bukan sekadar isu, melainkan cerminan nyata keresahan masyarakat.
Peristiwa ini pun turut menjadi sorotan berbagai pihak, termasuk media online yang mendorong pemerintah dan aparat penegak hukum untuk tidak hanya fokus pada penangkapan pelaku, tetapi juga mengusut tuntas jaringan peredaran narkoba yang diduga menjadi akar persoalan.
Masyarakat kini berharap, viralnya curahan hati seorang ibu ini dapat membuka mata semua pihak. Bahwa di balik maraknya kejahatan jalanan seperti begal, ada persoalan serius yang harus ditangani secara komprehensif, yakni peredaran narkoba yang dinilai semakin mengkhawatirkan dan mengancam masa depan generasi muda di Binduriang.
Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa kejahatan bukan hanya soal pelaku, tetapi juga tentang sebab yang melatarbelakanginya. Jika akar masalah tak segera diputus, bukan tidak mungkin kasus serupa akan terus berulang. (IB)














